Wednesday, May 7, 2008

coba makan mentos sambil minum coke

apakah yang terjadi kalau kita mencampur menthos dengan coke?.
bukan iklan dari coca cola, pepsi atau menthos, tapi iklan dari orang iseng yang sukanya bikin party.


http://www.youtube.com/watch?v=KCLg3nv8MuI

ini aku.....

sebuah kisah yang aku tulis kembali dari email yang lama tersimpan.....untuk seorang teman

badai salju.......
winter Leiden 2007



cerita hidupku panjang dan berbelit, mungkin ada yang berminat bikin sinetron kali yah ( he..he.he..he.. ), tapi thats right...I am not telling you lie, hidupku sulit, suatu saat aku akan menulis buku, kebetulan disini aku mengenal seorang penulis dan kedepan aku akan menulis dengan dibantu dia, bukan untuk cari duit, tapi sekedar berbagi dan belajar menulis.....banyak aku belajar dari hidupku. Mungkin orang berfikir wah ada di luar negri dua kali dapat beasiswa, tapi semua itu panjang jalannya. Aku ditakdirkan untuk berjuang, menangis, terhina, dibaikan, ditinggalkan ( apa lagi yah he..he.he....., but this is true )......dan aku masih berjuang dan akan terus berjuang, aku tidak dilahirkan dengan segala fasilitas seperti kebanyakan orang ( apalagi tionghoa sekarang kali yah), tapi itu yang membuatku sampai sejauh ini, hidupku sempat monoton belakangan tahun ini, tapi apa yang pernah terlewat dari aku kecil, remaja , sampai menjadi head department membentukku seperti ini.
Aku tidak pernah di TK apalagi kidergarten seperti anak anak sekarang, aku langsung ke SD, karena tak ada sekolah selain negri, aku bersekolah disekolah di negri.
aku menikmati masa kecilku, mandi di sungai, ke gunung, ke laut ( sampai saat ini aku masih lanjut dengan semuanya ) sampai diwaktu aku SMA, kakakku tewas tertabrak truk, dalam kesedihan papaku terserang stroke, semua usaha kami lakukan untuk menyelamatkannya, sampai kedua toko kami habis terjual, dan kami tak mampu lagi membiayai pengobatan papa, dan akhirnya kakak kakakku tak mampu meneruskan kuliah, kami pernah kelaparan, yah kelaparan seperti orang yang biasa kita lihat di lampu merah di Jakarta, meski kami tidak luntang lantung di jalan, tapi kami pernah merasakan hanya makan bubur yang diencerkan dan dibagi ber 5. saat itu aku berfikir kalau aku tidak merubah keadaan, keadaan kami semakin parah, aku bertekad kuliah. 3 hari menjelang UMPTN papa meninggal, tak terbayangkan kacaunya perasaan ku saat itu, tapi aku berjanji pada papa aku anak laki satu satunya akan menaggung semuanya. Dengan bekal sedikit uang pinjaman dari sepupu, aku berangkat ke Surabaya sendiri....saat itu aku begitu rapuh, pertama kali aku meninggalkan Lampung, sendiri, berdiri sendiri, tak ada yang tahu selama kuliah aku menjadi guru les privat, dan menjual barang barang amway. Aku harus kuat, semua kesulitan, ketakutan, kekhawatiran, membuat aku menjadi keras. Mungkin ketika itu teman teman melihat aku sebagai orang yang keras dan tak perdulian dan kaku, yah itulah aku saat itu. Yg aku tahu aku harus cepat selesai, dan bekerja. Pernah aku tertarik pada seorang gadis di ITS, tapi ketika ia menanyakan kendaraan apa yang aku punya. Aku berhenti menghubungi dia, aku tidak marah padanya karena dia tidak tahu, tapi itulah yang mendorongku untuk semakin giat menyelesaikan kuliahku, tak ada waktu untuk pacaran, tak ada uang diluar uang kuliah dan makan.
Di saat akhir lulus , aku sendirian, kakak dan orang tuaku tak mampu untuk berangkat ke surabaya.....
ketika itu aku membaca pengumuman lowongan kerja di konimex. Semua temanku sudah mencoba semua gagal, persediaan uang sudah menipis, akhirnya aku melamar juga. Dengan berbekal uang 70 ribu rupiah , aku naik bus ke Solo, sampai terlalu pagi, tak punya uang untuk menginap, jam satu malam aku tiba di konimex dan berbekal tikar aku tidur di pelataran pabrik sampai pagi hari aku dibangunkan langkah langkah kaki para pekerja. Aku melewti semua ujian dengan baik sampai akhirnya hari itu juga aku diterima bekerja di sana.
3 tahun aku bekerja , menimba ilmu disana, dan pertama kali pula aku dikirim ke German untuk mempelajari teknik pembuatan pelet untuk sustained release. Mimpi masa depan, aku tidak ingin menjadi staff biasa saja, tapi aku hanya menyukai riset, satu satunya jalan adalah melanjutkan sekolah, tapi aku menanggung orang tua dan kuliah adikku, hidupku pun kembali prihatin, aku menghemat jika suatu saat aku mendapat beasiswa aku masih bisa menyimpan uang untuk mereka. dan akhirnya menjadi kenyataan ( perjuangan mendapatkan ini sangat berliku dan menyentuh spirtual life ku ), sampai akhirnya aku berangkat ke belanda selama 1 tahun. Disanalah aku pertama kali bertemu dengan wanita yang kemudian membuatku jatuh cinta walaupun sebenarnya dia adik kelas kita di unair,tapi aku tidak pernah mengenalnya dulu.
kembali ke Indoneisa aku bekerja di bintang toedjoe, dengan segala kesulitan akhirnya aku bisa menjadi manager dan berkembang pesat karirku, pendapatanku lumayan , dan setahun sekali aku bisa mengunjungi orang yang diam diam aku cintai.
3 tahun berlalu, saat itu aku berfikir untuk move to multi national company, tapi tiba tiba keadaan mamaku memburuk, sehingga aku tidak mau beresiko pindah pekerjaan. Namun surat pengunduran diriku yang belum sempat aku kirimkan telah dengan tidak benar dilihat oleh orang lain, dan disebarkan beritanya seantero perusahaan tanpa aku ketahui, sampai suatu saat aku dipnaggil CEO tanpa aku tahu kenapa, dia adalah keponakan founder , aku dianggap pengkhianat ( aku sendiri bingung dan sedih karenanya ) dan aku diperlakukan dengan sangat amat tidak menyenangkan sejak saat itu, aku ingin lari tapi aku membutuhkan uang untuk berobat mama. Mungkin tindakan CEO itu padaku sudah dapat dikatagorikan crime saat ini, tapi posisiku lemah, disaat yang sama wanita yang aku cintai kembali ke Indonesia, dan kami jalan bersama. beberapa bulan kemudian mama pergi meninggalkan kami, dan the founder akhirnya mengetahui kondisi yang ada sehingga aku dipindahkan ke kalbe dan diberi departement baru untuk pengembangan drug delivery system. Kesulitan yang aku hadapi saat itu ternyata komitment perusahaan untuk pengembangan produk ini sangat rapuh, hanya di level atas saja komitment dan keingingan ini ada , tetapi dibawah Board of directure pelaksaannya seperti kucing kucingan, aku merasa kesulitan dan merasa tidak nyaman dengan posisi saat itu. Beberapa bulan aku bertahan. Disaat yang sama aku mulai membangun mimpi mimpi dengan wanita yang aku cintai. Saat hubungan kami mulai serius, dia mulai membuaka masa lalunya, sempat aku ragu dan bimbang saat itu, hatiku sedih dan hancur, tapi aku sudah terlanur mencintainya sekian lama, sehingga aku menerima dia apa adanya dan memutuskan untuk melamarnya, kamipun bertunangan, mimpi sudah kami bangun, aku membeli rumah, kami berbicara tentang masa depan, aku mempersiapkan pernikahan kami, tentang anak anak, dan kami berkonsultasi ke bagian imigrasi ke kanada, saat itu dia mendapat kesempatan untuk phd di luar negri, tak baik aku melarangnya, sehingga aku berjanji aku akan menyusulnya, saat dia pergi, dia berjanji tak akan meninggalkan aku dan pergi hanya untuk sesaat. saat pernikahan sudah dekat, entah bagaimana dia mulai gelisah dan meributkan hal hal yang tidak ada hubungannya dengan kami, sampai tiba waktunya aku harus mempersiapkan pernikahan, gedung, dll. dia tidak dapet lagi aku hubungi, segalanya aku batalkan dan ketika itu bulan desember saatnya dia pulang untuk membicarakan masa depan kami, tapi dia tidak pernah kembali, aku tak tahu kenapa, aku mencoba mencari jawaban tapi tak pernah diangkatnya telephonku, aku tak dapat meraihnya lagi, dia meninggalkan aku, sendiri ditengah keadaan aku masih berduka, disaat aku masih terengah engah dalam pekerjaanku yang sangat tak menyenangkan. Aku sakit dan lelah serta malu, Aku mencoba mencari jawaban dari masa lalunya karena aku tak dapat merenggut masa depan. Sakit, sakit, dari semua usaha aku lakukan, marah benci, memaafkan, semua tidak bisa diselesaikan dalam waktu 1 dua tahun, aku hancur............sampai aku tak tahu harus bagaimana dan berkata apa, penasaran, benci, dendam, cinta, semua bercampur aduk, tak berani aku mengangkat muka memandang orang bergandengan tangan dengan anak anak yang mungil di mal mal, aku melarikan diri ke gunung gunung, mengobati diriku. Pernah aku mencoba menelephonnya berkali kali, sampai suatu pagi waktu ditempatnya, seorang pria menjawabnya.....dia sudah berdua, masa lalunya terulang kembali dipikiranku, aku mencoba menghubunginya lagi, dia tak menjawab, dia hanya tertawa dan menikmati permainannya, yang aku tawarkan hanya keinginan baikku yang sudah dicampakkannya dengan segala tawanya, aku tak sanggup lagi dengan semua ini aku hanya bisa berdoa, dan berdoa, sampai Tuhan akhirnya menginginkan aku meninggalkan semua yang aku punya, jabatan, kekayaan, dan aku berangkat ke belanda lagi, dibiayayai pemerintah Belanda, sampai saat ini.........disini aku memulai lagi hal baru, Hidupku malang melintang, dari sekian kecil yang aku ceritakan padamu , membuat aku tumbuh dari bebrapa hal, bertemu dengan orang orang disekelilingku membuat aku berkembang secara intelektual, dan lebih realistis dalam hidup ini, membuat aku lebih terbuka, dan melihat hidup tidak hanya salah dan benar, hitam atau putih..............