Wednesday, January 30, 2008

ada botol arak kosong yang dijual?

ada botol arak kosong yg dijual ? (terabaikan)


ada botol arak kosong yg dijual ? ( tanpa harapan)


ada botol arak kosong yg dijual ?( kesepian)


ada botol arak kosong yg dijual ?( ada botol arak kosong yg dijual )


suara yg akrab menemaniku bertahun2 hujan dan angin


Sedari awal tidak perlu diingat takkan terlupakan selamanya


tiada langit darimana bumi ?


tiada bumi adakah rumah ?


tiada rumah adakah kamu ?


tiada kamu mana ada saya ?


seandainya kamu tidak pernah merawat diriku dan memberiku kehangatan
hidup


seandainya kamu tidak pernah melindungiku, nasibku entah bagaimana ?


Adalah engkau yg merawat membesarkanku


yg mengucapkan sepatah kata pertama padaku


adalah engkau yg memberi aku rumah


membuat aku dan kau memilikinya bersama

walau kau tidak bisa berbicara sepatah kata

tapi lebih mengetahui hitam putih , palsu benarnya dunia


walau engkau tidak bisa mengekspresikan perasaanmu
tapi engkau mengeluarkan keramahan hidup


dikejauhan suaramu yg akrab terdengar

membuatku teringat betapa welasnya hatimu


kapan kau kembali kesisiku membuatku sekali lagi bernyanyi bersama


adakah botol arak kosong yg dijual ?

Saturday, January 26, 2008

Periku kucinta kamu



saat pertama kali aku melihatmu....
dengan baju putihmu engkau bersinar di mataku
untuk pertama kali........
engkau periku begitu suci tapi tak tersentuh
kutanya namamu dengan takut takut engkau menyebut namamu
temanmu yang selalu melindungimu dari siapa saja
aku mengerti karena engkau selalu berada dalam lingkungan yang didominasi kaum pria

periku engkau bersinar di mataku
saat kususun satu satu kayu kayu kecil
membentuknya menjadi lampion
tanpa kata kata....aku serahkan padamu
dengan wajah tertunduk, aku mengatakan
"aku membuatnya untukmu"

periku saat engkau menanyakan kendaraan apa yang aku punya
hancurlah hatiku
periku, tahukah kamu aku harus berdiri sendiri di kota itu
tahukah engkau aku hanya bisa makan di warung depan kos kosanku
karena itulah yang termurah
tahukah engkau di tengah kesibukan kuliah aku harus mengajar untuk sesuap nasiku
tahukah engkau kadang aku hanya menelan nasi tanpa lauk
dengan tersenyum aku mengatakan aku sedang bernazar
kepada setiap orang yang melihatku hanya memiliki nasi putih

Periku saat itu aku berjanji
aku harus menyelesaikan kuliahku secepatnya
mencari pekerjaan dimana aku akan memiliki kendaraan yang bisa membawa kita
kemana saja............
tapi pedih hatiku pada diriku sendiri
bukan pada dirimu......
periku aku harus mundur
karena inilah jalan yang harus kuambil saat itu
meski kemudian jauh setelah itu aku sesali
periku engkau bersinar begitu cerah...........
dimata orang lain saat ini.................

untuk cinta pertamaku Sioe

requiem Pater

papa...............!!!
tahukah engkau aku marah padamu..
setiap engkau datang kami semua menyambutmu dengan gembira...papa pulang!!! papa pulang...!!! menyambutmu di halaman rumah.
tapi papa hanya memeluk adikku, di bawanya adikku ke dalam rumah
diberikannya sekeping uang koin untuk ditabung
aku hanya memandang dari balik lemari......bertanya dalam hatiku ..mengapa?
papa, engkau hanya berbicara padaku hanya sepatah dua patah saat aku menyerahkan raport untuk di tanda tangani.
aku marah karena engkau tak pernah memberikanku mainan waktu ku kecil..
Aku marah padamu karena di saat anak anak lainnya bergembira dan bermain di masa liburannya , engkau membawa aku ke desa untuk membantumu di warung..
bagun jam 5 pagi dan tutup jam 7 malam, menimbang gula, minyak...dll
mengapa aku? aku hanya anak SD, mengapa tidak Ferry kakakku yang tak pernah kulihat batang hidungnya di rumah...
meski tiap libur sekolah engkau membawaku tapi tak pernah lebih jauh aku mengenalmu.
Aku marah engkau diam saja ketika 3 orang tentara itu memaksa mu untuk memberikan uang upeti natal dan tahun baru sementara engkau mengatakan tidak punya, engkau diam saja ketika mereka menghina kita...cina, dan menghancurkan kaca depan warung kita, menghancurkan semua botol limun dan kecap di warung kita

pernah cerita ibu tiri menjadi topik pembicaraan kami anak anak di kampung...
aku mulai menghayalkan , bagaimana tersiksanya jika aku memiliki ibu tiri..fantasi anak anak !!!
aku mulai mencari tahu apakah mungkin engkau mengkhianati kami?
dengan nekat aku mengunjungi mu untuk memata matainya, dengan kendaraan umum aku tiba tiba muncul di depanmu di warung kami, kadang sore hari, dan satu saat pernah malam hari, ketika aku tersesat di bukit barisan bersama dua temanku saat ditugaskan untuk meninggalkan jejak untuk anak siaga pramuka junior kami...kami akhirnya bisa keluar dari hutan dan menemukan jalan setapak yang aku kenal, jalan menuju desa tempat warung kami berada.Tiba tiba aku muncul di desa, mengetuk pintu warung kami, engkau ada disanan.....
dengan lega akhirnya aku percaya akan mu, papaku yang setia.
engkau bekerja dengan tekun demi kami 6 orang anakmu......
sampai suatu saat setalah kematian Ferry........tiba tiba engkau jatuh pingsan, stroke dan akhirnya dilarikan ke rumah sakit sementara aku melihat barang barang di warung hampir habis di curi orang.
entah berapa lama engkau terbaring di rumah sakit, saat saat perubahan dalam keluarga kita dimulai menuju kehancuran, ketika tiang penopang telah roboh.
setiap saat aku harus siap ketika dengan tergopoh gopoh sekretaris sekolah menyebut namaku dengan berbisik bisik pada guru di kelasku, aku harus pulang karena kondisimu yang mulai memburuk, satu satu kegagalan organ tubuhmu terjadi, setiap kali hatiku rasanya tertusuk...sakit sekali.
sampai satu saat ingatanmu hilang, ketika aku mengelap tubuhmu, membersihkan ranjangmu dari air seni, dan kotoranmu. Aku melihat kegagahanmu telah pudar hanya tulang dan kulit saja
yang tertinggal, saat malam engkau melonglong , berteriak teriak, kesadaranmu mulai turun..........setiap kali kutanyakan dokter selalu dijawab, relakan saja..belum ada obatnya, aku marah pada para dokter itu, aku berjanji pada diriku , jika mereka tak dapat menyembuhkan papa akan kucari sendiri obatnya suatu saat nanti.
Siang hari aku menjaga warung kita yang hampir kosong, kulihat orang berlalu lalang di depanku, tidak ada lagi yang mampir meski untuk bertegur sapa, para langganan yang dulu selalu menunjukkan batang hidungnya, kini hanya melalui warung kami tanpa melirik sedikitpun, karena kami memang hanya memiliki 50 kg beras untuk dijual , itupun perlahan lahan habis kami pergunakan untuk makan kami, saat itu aku menangis tertahan, seolah aku berada dalam alam lain sehingga tak terlihat oleh mereka, seperti pengemis yang membutuhkan uluran tangan mereka yang lalu lalang tak perduli, ditutupi oleh buku di wajahku aku menutupi air mataku, aku berjaji pada diriku bahwa aku tidak ingin hidup seperti ini lagi, saatnya sebentar lagi akan tiba aku akan melewati SMA, aku tak tahu bagaimana selanjutnya, tapi aku tidak ingin menjadi penunggu toko dan mengulang nasib seperti ini, aku harus keluar dari semua ini, aku harus melanjutkan kuliahku, tapi bagaimana? aku harus merantau ke kota besar, belajar sambil bekerja.......universitas murah, universitas negri...tapi aku seorang keturunan , bagaimana aku dapat diterima di univeristas negri yang saat itu terkenal menerapkan prinsip 9:1 ( 10 % untuk warga keturunan )? mama begitu marah ketika tahu aku mendaftarkan diri untuk kuliah, dia menangisi dan mengkhawatirkan bagaimana membiayai aku, dia mengancam bahwa aku harus berjalan sendiri jika aku terus dengan tekadku...maafkan aku mama tapi inilah penyelesaian satu satunya.......aku harus merubah keadaan, aku ingin pergi..........demi kita semua.
sampai suatu malam 3 hari menjelang UMPTN engkau akhirnya pergi papa, meninggalkan kami dalam kesendirianmu.... di kamarmu.
hari ketiga sebelum aku melangkahkan kakiku menggapai citaku aku berjanji di depan kuburmu aku akan pergi.......melintasi lautan seperti yang aku khayalkan sejak kecil di atas atap rumah kita yang berada diantara bukit barisan dan pantai.........aku melihat samar samar kapal berlalu menuju tanah jawa.
ketika aku berbenah di warung itu , dalam laci meja tempatmu bekerja, aku menemukan buku catatanmu, dimana kau simpan foto ku waktu kecil, dan kau tuliskan puisi yang tidak pernah bisa kau berikan padaku,
terjatuh dengan air mata aku membacanya...salamat jalan papa.....
aku tahu engkau mencintai aku seperti engkau mencitai adikku, tapi engkau tak bisa mengungkapkannya pada ku......begitupun aku nantinya.......maafkan aku papa...maafkan aku.
Kepergianmu menyebabkan aku tiba tiba harus menjadi seorang pria, mencari sendiri masa depanku, bertanggung jawab pada semuanya, sanggupkah aku?
aku berjalan seperti orang mati, kesedihan, kebingungan, beban dipundakku makin berat, ketakutan akan masa depan....ketidak pastian, semuanya seperti menjadi titik nadir, dan momen inilah yang merubah diriku dalam babak pertama hidupku.

Requiem bruder

gotcha!!!, dengan mengendap endap dia menuruni tangga dari loteng kamar orang tua kami
dia meletakkan jarinya di bibir tanda diam begitu melihatku
aku hanya menatapnya saja
yang kutahu dia sedang mencoba mencuri uang di bawah kasur orang tua kami
kehadirannya seperti bayang bayang bagiku. begitu samar...
lebih banyak waktu yang dihabiskan di luar rumah entah dimana
masa yang paling berkesan dengannya yang aku ingat saat kami berboncengan dengan papa menuju desa tempat papa membuka warung kecilnya..............
"pada hari minggu kuturut ayah ke kota, naik delman istimewa kududuk di muka..."
kenyataannya kami mengendarai sepeda motor, aku di tengah dan ia di belakang...
itu saja yang aku ingat.....aku tak ingat lagi wajahnya saaat itu karena sudah lama sekali berlalu 28 tahun sudah.

Entah bagaimana dia pulang dengan mata lebam...
berkelahi ....menjadi alasan bagi dia untuk pergi ke Jakarta , untuk lebih bisa bebas.
Sampai kemudian papa kesehatannya mulai memburuk, dia kembali ke rumah..
tak diceritakannya pada siapapun dia dalam masalah..
yang aku ingat dia pernah kedapatan mencuri cengkeh yang di gudang rumah kami
sampai suatu malam di warung kami di desa, di antara barisan papan alas tempat tidur kami
ditulisnya puisi tentang kerinduan akan anaknya..
anaknya? yah...
dia sudah beristri di jakarta..
aku terperangah saja, aku tidak mengenalnya betul saat itu. Tapi papa tahu namun diam seribu bahasa kepada mama tentang hal ini.
Kulihat dia semakin serius dalam hidupnya, dia bekerja membantu papa, setelah putus dari sekolahnya di jakarta
dia ingin membawa istrinya ke kampung halaman kami
tapi dia masih menunggu kondisi mama untuk bisa menerima kenyataan.
sore itu saat selesai menempatkan dupa aku bersujud,
tiba tiba aku melihatnya berdiri di depanku, dengan cengar cengir dia menempatkan rokoknya di depan patung di Altar
aku terperanjak...
mama melihatnya..."seharusnya kamu minta maaf" kata mama kepadanya
dia tertawa ...
selang sejam kemudian, seorang tetangga menyampaikan berita dia mendapat kecelakaan, tertabrak sebuah truk setelah ke luar dari bilyard dengan tetangga kami
keduanya tewas seketika.........
seperti tidak percaya mama kembali ke kamar untuk beristirahat..
saat dia terbangun, tetangga kami menanyakan mayatnya akan dikebumikan oleh orang kampung kami,
baru saat itulah mama tersedar apa yang telah terjadi, tangis mama membuat saat itu membauat aku merasakan bagaimana rasanya kehilangan keluarga untuk pertama kali..........saat itu papa baru menceritakan bahwa dia kakakku sudah beristri.
Saat itulah dia datang bersama anaknya , dia menangis begitu melihatku...dikatakan aku mirip dengan kakakku.
waktu berlalu mama akhirnya bisa menerima dia............
aku baru lulus SMA saat itu , berkunjung ke rumahnya di jakarta bersama kakak perempuanku.
bersama keponakan baruku, kami ke bioskop.di tengah film dia mengatakan bahwa aku dapat menggantikan kakakku demi anak mereka.
Aku tak mengerti apa yang dikatakannya, aku baru saja lulus SMA.....
yang kuingat saat itu adalah aku merasa marah padanya. sampai saat ini dia pergi entah kemana.............

Monday, January 21, 2008

kazeni

Aku yang saat ini berada di negri asing
yang pernah melanglang entah kemana mana
dan akan melanglang kemana mana
tahukah kamu aku cuman anak desa?
ketika aku pulang ke kampung halamanku
ke kota kecil dimana tinggal tersisa beberapa orang sanak famili saja di sana.
kembali ke pantai
kembali ke desa kecil bernama tanjung bintang
serasa asing bagiku dan juga bagi mereka yang menatapku
teringat aku waktu waktu lampau
saat listrik belum masuk kemari
teringat aku dinginnya pagi sebelum panggilan ayahku dan azan subuh
sebelum warung kecil kami buka
disinilah aku pertama kali belajar bersepeda
teringat suatu siang aku melarikan diri dari warung ayahku
menumpang pada gerobak rumput ditarik oleh sapi
yang melintasi jalan panjang dengan ujung cakrawala,
dengan pangkal rumput di bibirku menikmati sepoi angin
kanan kiri sawah yang sepi, dan jalan yang agak berdebu
dilindas oleh roda gerobak sapi, sepi...tenang... hanya satu dua orang terlihat di sawah
kadang melalui ladang cengkeh dengan anjing anjing kampung yang mengongong
aku yang telah melintasi kali kali kecil, menangkap capung di padang rumput dan semak.
aku yang telah melintasi bukit bukit barisan
bermandikan air laut yang kotor menghitam
menjadi saksi beracunnya buntut pari
saat sore dimana radio siap dinyalakan menunggu nunggu
Brahma kumbara dan mantili dengan seksama.nikmat sekali saat itu...
ketika malam tiba dan gelap, udara menjadi dingin,
berjalan bersama ayah mengunjungi kawan kawannya
dengan berbekal nyala senter, sementara langit malam cukup memberi temaran pada jalan kami, bercerita mengenai cita cita dan kemana aku akan pergi
atau sekedar bersenandung kecil dengan suara harmonika yang dimainkan ayahku
hai kawan ketika semua terasa berat aku selalu teringat masa masa ini
dan tersenyumlah aku, paling tidak aku pernah merasa bahagia dalam kesederhanaan. aku tak pernah menyesali sulitnya jalan setelah itu, karena aku memiliki masa lalu yang membuatku tersenyum.

Friday, January 11, 2008

kurcaci kurcaci

Sejak sebelum dilahirkan sudah mempersulit diri sendiri dan terlibat masalah, demikian lah aku. Dilahirkan dengan penuh kesulitan setelah 10 bulan berada di dalam perut ibuku dalam keadaan terlilit pusar sendiri, entahlah mungkin akau merasa lebih aman di dalam daripada di luar bertemu dengan keempat kakak kakakku. Sampai sekarangpun aku masih sering membelit jari jemari kaki dan tanganku pada tali dari sarung bantal atau guling, barulah aku bisa lelap tertidur.

Beruntung sekali aku dilahirkan di kota yang sangat kecil, dimana saat itu aku masih dapat melihat burung hantu, elang, camar dan bangau yang kadang masih melintas di angkasa dengan gagahnya. Meski waktu itu aku sangat takut oleh burung elang dan bangau yang menurut kakakku sering menculik anak anak kecil yang sering masih berkeliaran ketika hari telah menjelang senja. Sebagian besar masa kecilku aku lebih banyak dibesarkan oleh kakak kakakku meski aku sering melarikan diri dari pengawasan mereka. Tempat favorit untuk melarikan diri bagiku adalah Dam tempat teman masa kecilku yang juga tentanggaku Kadir dan Abbu bermain air ( kami tidak dapat berenang ). Dam adalah sebuah sungai yang dibendung dalam 7 tingkatan, dan menjadi sumber air bagi kebutuhan orang orang di desa kami ( saat ini sungai itu telah menghilang ).

Permainan yang paling menyenangkan bagiku saat itu adalah petak umpet ( sumputan), namun semenjak suatu malam kakakku bercerita tentang seorang anak yang bersembunyi di dalam peti , terkunci dan tak dapat ditemukan, aku mengurangi keterlibatanku dalam permainan ini. Kadang aku terlambat pulang ke rumah sehabis bermain uler bang, lempar benteng,menjadi manten, atau masak daun, mamaku selalu mengomel, pernah suatu saat pintu dikuncinya sehingga aku tidak bisa masuk kedalam rumah dan dibiarkannya aku mengetuk pintu berkali kali dengan ketakutan teringat akan cerita tentang burung elang dan hantu sore yang sering melintasi jalan di depan rumah kami. Sampai dengan takut takut kakak tertuaku membukakan pintu, setelah tubuhku dingin dan basah berkeringat karena lelah bermain dan menangis serta ketakutan.

Namun terlepas dari permaianan dengan tetanggaku, aku kadang lebih suka menyendiri, di dalam rumah menyusun bangku diatas meja, lalu memanjatnya sampai dapat menapaki salon speaker yang tak pernah berbunyi sepanjang yang aku ingat, dan barulah aku puas setelah bisa menyentuh langit langit rumah, meski kemudian menangis karena tidak dapat turun. Kadang aku pergi ke empang sebuah rumah di dekat pelabuhan ataupun ke Dam dan mencoba memancing dengan kail dan umpan cacing atau nasi , namun sepanjang yang aku ingat aku tidak pernah berhasil karena disana hanya ditinggali oleh ikan betok kecil dan tidak ada ikan mas yang sering dibualkan oleh teman temanku. Kadang aku hanya berjalan sendiri melintasi kebun kebun belakang rumah tetanggaku dan meloncat untuk memetiki bunga mawar atau tevetia kuning , bukan sekali dua kali aku menginjak duri ataupun paku, dan berjalan terpincang pincang menahan sakit dan tangisku meledak ketika melihat mamaku yang selalu dengan kasih membersihkan lukaku , mencabut paku ataupun duri dari kakiku dan mengusapnya dengan rambutnya, dan tenanglah aku, karena aku percaya akan mamaku. Walaupun pernah suatu saat lukaku menjadi serius dan bernanah, membengkak, dan demam tinggi, tapi seingatku orangtuaku tidak pernah membawa kami ke dokter kecuali dengan terpaksa.

Pernah suatu saat teman-temanku memiliki mobil truk kecil dari kayu untuk mengakuti pasir , aku hanya bisa berlari mengikuti mereka dan berteriak bersama mereka, ingin sekali aku memilikinya juga merasakan beban yang aku tarik dengan kecepatan tinggi sambil berlari, tapi aku hanya bisa membayangkannya saja. Aku tahu aku harus bertanya kepada papa apakah aku bisa memilikinya, tapi aku harus menunggu sampai dia pulang. Papa memiliki warung kecil di sebuah desa dan hanya pulang di akhir pekan, dan aku tidak begitu dekat dengannya. Bagiku sangat asing sekali, karena dia tidak pernah mengajakku berbicara. Sampai suatu saat sahabat dari ayahku berbicara kepada ayahku bagaimana seharusnya ia membelikan mobil mobilan itu untukku, karena sampai pada satu hari aku tidak ingin lagi berlari mengejar teman temanku dengan mobil mobilan mereka. Akhirnya ayahku membelikan aku mobil mobilan itu, tetapi saat itu anak anak lain tidak lagi bermain mobil mobilan, permainan berganti menjadi badminton di sepanajng jalan desa kami. Sejak saat itu, sebelum aku memulai masa masa sekolah aku telah merasakan papaku semakin begitu asing bagiku.

Monday, January 7, 2008

Monyet berprostitusi demi uang

Apa jadinya jika monyet diperkenalkan pada konsep mengenai uang?
sekelompok Ilmuan dari Yale melatih monyet monyet dan memperkenalkan konsep uang. Akibatnya?
Monyet monyet ini belajar menukar uang untuk mendapatkan buah buahan atau permen bahkan beberapa monyet wanita menjual dirinya untuk mendapatkan uang yang kemudian ditukar dengan buah buahan.

Sejak ribuan tahun yang lalu benda benda yang diduga berfungsi sebagai uang telah diketemukan terkubur bersama kebudayaan itu sendiri . Meski antar kebudayaan kuno tersebut dipisahkan oleh waktu dan jarak, tetapi sebelum adanya interaksi antar pusat kebudayaan dunia tersebut, interaksi antar masyarakat di dalamnya telah menunjukan bahwa mereka mengenal konsep uang. Demikian pula halnya dengan prostitusi, sering kita dengar sebagai penyakit sosial seumur dengan kebudayaan itu sendiri.
Lalu apakah uang yang menjadi penggerak civilization?
Uang yang mendorong lahirnya prostitusi?
siapakah yang memperkenalkan konsep uang pada manusia saat itu?
Apakah ada mahluk mahluk berwajah aneh dengan tingkat nalar lebih tinggi seperti yang ditemukan pada lukisan lukisan pada piramid ataupun gua Indian kuno yang telah memperkenalkannya pada manusia ( takhayul banget nih seperti di film film Alien )?
read further in :
http://www.diggersrealm.com/mt/archives/001105.html

Simple science to generate money

Who said that the papers or thesis should sound very scientific and complex.
http://itp.nyu.edu/thesis/spring2007/detail.php?project_id=958



Crow Vending Machine from dunyakirkali on Vimeo.