Sejak sebelum dilahirkan sudah mempersulit diri sendiri dan terlibat masalah, demikian lah aku. Dilahirkan dengan penuh kesulitan setelah 10 bulan berada di dalam perut ibuku dalam keadaan terlilit pusar sendiri, entahlah mungkin akau merasa lebih aman di dalam daripada di luar bertemu dengan keempat kakak kakakku. Sampai sekarangpun aku masih sering membelit jari jemari kaki dan tanganku pada tali dari sarung bantal atau guling, barulah aku bisa lelap tertidur.
Beruntung sekali aku dilahirkan di kota yang sangat kecil, dimana saat itu aku masih dapat melihat burung hantu, elang, camar dan bangau yang kadang masih melintas di angkasa dengan gagahnya. Meski waktu itu aku sangat takut oleh burung elang dan bangau yang menurut kakakku sering menculik anak anak kecil yang sering masih berkeliaran ketika hari telah menjelang senja. Sebagian besar masa kecilku aku lebih banyak dibesarkan oleh kakak kakakku meski aku sering melarikan diri dari pengawasan mereka. Tempat favorit untuk melarikan diri bagiku adalah Dam tempat teman masa kecilku yang juga tentanggaku Kadir dan Abbu bermain air ( kami tidak dapat berenang ). Dam adalah sebuah sungai yang dibendung dalam 7 tingkatan, dan menjadi sumber air bagi kebutuhan orang orang di desa kami ( saat ini sungai itu telah menghilang ).
Permainan yang paling menyenangkan bagiku saat itu adalah petak umpet ( sumputan), namun semenjak suatu malam kakakku bercerita tentang seorang anak yang bersembunyi di dalam peti , terkunci dan tak dapat ditemukan, aku mengurangi keterlibatanku dalam permainan ini. Kadang aku terlambat pulang ke rumah sehabis bermain uler bang, lempar benteng,menjadi manten, atau masak daun, mamaku selalu mengomel, pernah suatu saat pintu dikuncinya sehingga aku tidak bisa masuk kedalam rumah dan dibiarkannya aku mengetuk pintu berkali kali dengan ketakutan teringat akan cerita tentang burung elang dan hantu sore yang sering melintasi jalan di depan rumah kami. Sampai dengan takut takut kakak tertuaku membukakan pintu, setelah tubuhku dingin dan basah berkeringat karena lelah bermain dan menangis serta ketakutan.
Namun terlepas dari permaianan dengan tetanggaku, aku kadang lebih suka menyendiri, di dalam rumah menyusun bangku diatas meja, lalu memanjatnya sampai dapat menapaki salon speaker yang tak pernah berbunyi sepanjang yang aku ingat, dan barulah aku puas setelah bisa menyentuh langit langit rumah, meski kemudian menangis karena tidak dapat turun. Kadang aku pergi ke empang sebuah rumah di dekat pelabuhan ataupun ke Dam dan mencoba memancing dengan kail dan umpan cacing atau nasi , namun sepanjang yang aku ingat aku tidak pernah berhasil karena disana hanya ditinggali oleh ikan betok kecil dan tidak ada ikan mas yang sering dibualkan oleh teman temanku. Kadang aku hanya berjalan sendiri melintasi kebun kebun belakang rumah tetanggaku dan meloncat untuk memetiki bunga mawar atau tevetia kuning , bukan sekali dua kali aku menginjak duri ataupun paku, dan berjalan terpincang pincang menahan sakit dan tangisku meledak ketika melihat mamaku yang selalu dengan kasih membersihkan lukaku , mencabut paku ataupun duri dari kakiku dan mengusapnya dengan rambutnya, dan tenanglah aku, karena aku percaya akan mamaku. Walaupun pernah suatu saat lukaku menjadi serius dan bernanah, membengkak, dan demam tinggi, tapi seingatku orangtuaku tidak pernah membawa kami ke dokter kecuali dengan terpaksa.
Pernah suatu saat teman-temanku memiliki mobil truk kecil dari kayu untuk mengakuti pasir , aku hanya bisa berlari mengikuti mereka dan berteriak bersama mereka, ingin sekali aku memilikinya juga merasakan beban yang aku tarik dengan kecepatan tinggi sambil berlari, tapi aku hanya bisa membayangkannya saja. Aku tahu aku harus bertanya kepada papa apakah aku bisa memilikinya, tapi aku harus menunggu sampai dia pulang. Papa memiliki warung kecil di sebuah desa dan hanya pulang di akhir pekan, dan aku tidak begitu dekat dengannya. Bagiku sangat asing sekali, karena dia tidak pernah mengajakku berbicara. Sampai suatu saat sahabat dari ayahku berbicara kepada ayahku bagaimana seharusnya ia membelikan mobil mobilan itu untukku, karena sampai pada satu hari aku tidak ingin lagi berlari mengejar teman temanku dengan mobil mobilan mereka. Akhirnya ayahku membelikan aku mobil mobilan itu, tetapi saat itu anak anak lain tidak lagi bermain mobil mobilan, permainan berganti menjadi badminton di sepanajng jalan desa kami. Sejak saat itu, sebelum aku memulai masa masa sekolah aku telah merasakan papaku semakin begitu asing bagiku.
No comments:
Post a Comment