papa...............!!!
tahukah engkau aku marah padamu..
setiap engkau datang kami semua menyambutmu dengan gembira...papa pulang!!! papa pulang...!!! menyambutmu di halaman rumah.
tapi papa hanya memeluk adikku, di bawanya adikku ke dalam rumah
diberikannya sekeping uang koin untuk ditabung
aku hanya memandang dari balik lemari......bertanya dalam hatiku ..mengapa?
papa, engkau hanya berbicara padaku hanya sepatah dua patah saat aku menyerahkan raport untuk di tanda tangani.
aku marah karena engkau tak pernah memberikanku mainan waktu ku kecil..
Aku marah padamu karena di saat anak anak lainnya bergembira dan bermain di masa liburannya , engkau membawa aku ke desa untuk membantumu di warung..
bagun jam 5 pagi dan tutup jam 7 malam, menimbang gula, minyak...dll
mengapa aku? aku hanya anak SD, mengapa tidak Ferry kakakku yang tak pernah kulihat batang hidungnya di rumah...
meski tiap libur sekolah engkau membawaku tapi tak pernah lebih jauh aku mengenalmu.
Aku marah engkau diam saja ketika 3 orang tentara itu memaksa mu untuk memberikan uang upeti natal dan tahun baru sementara engkau mengatakan tidak punya, engkau diam saja ketika mereka menghina kita...cina, dan menghancurkan kaca depan warung kita, menghancurkan semua botol limun dan kecap di warung kita
pernah cerita ibu tiri menjadi topik pembicaraan kami anak anak di kampung...
aku mulai menghayalkan , bagaimana tersiksanya jika aku memiliki ibu tiri..fantasi anak anak !!!
aku mulai mencari tahu apakah mungkin engkau mengkhianati kami?
dengan nekat aku mengunjungi mu untuk memata matainya, dengan kendaraan umum aku tiba tiba muncul di depanmu di warung kami, kadang sore hari, dan satu saat pernah malam hari, ketika aku tersesat di bukit barisan bersama dua temanku saat ditugaskan untuk meninggalkan jejak untuk anak siaga pramuka junior kami...kami akhirnya bisa keluar dari hutan dan menemukan jalan setapak yang aku kenal, jalan menuju desa tempat warung kami berada.Tiba tiba aku muncul di desa, mengetuk pintu warung kami, engkau ada disanan.....
dengan lega akhirnya aku percaya akan mu, papaku yang setia.
engkau bekerja dengan tekun demi kami 6 orang anakmu......
sampai suatu saat setalah kematian Ferry........tiba tiba engkau jatuh pingsan, stroke dan akhirnya dilarikan ke rumah sakit sementara aku melihat barang barang di warung hampir habis di curi orang.
entah berapa lama engkau terbaring di rumah sakit, saat saat perubahan dalam keluarga kita dimulai menuju kehancuran, ketika tiang penopang telah roboh.
setiap saat aku harus siap ketika dengan tergopoh gopoh sekretaris sekolah menyebut namaku dengan berbisik bisik pada guru di kelasku, aku harus pulang karena kondisimu yang mulai memburuk, satu satu kegagalan organ tubuhmu terjadi, setiap kali hatiku rasanya tertusuk...sakit sekali.
sampai satu saat ingatanmu hilang, ketika aku mengelap tubuhmu, membersihkan ranjangmu dari air seni, dan kotoranmu. Aku melihat kegagahanmu telah pudar hanya tulang dan kulit saja
yang tertinggal, saat malam engkau melonglong , berteriak teriak, kesadaranmu mulai turun..........setiap kali kutanyakan dokter selalu dijawab, relakan saja..belum ada obatnya, aku marah pada para dokter itu, aku berjanji pada diriku , jika mereka tak dapat menyembuhkan papa akan kucari sendiri obatnya suatu saat nanti.
Siang hari aku menjaga warung kita yang hampir kosong, kulihat orang berlalu lalang di depanku, tidak ada lagi yang mampir meski untuk bertegur sapa, para langganan yang dulu selalu menunjukkan batang hidungnya, kini hanya melalui warung kami tanpa melirik sedikitpun, karena kami memang hanya memiliki 50 kg beras untuk dijual , itupun perlahan lahan habis kami pergunakan untuk makan kami, saat itu aku menangis tertahan, seolah aku berada dalam alam lain sehingga tak terlihat oleh mereka, seperti pengemis yang membutuhkan uluran tangan mereka yang lalu lalang tak perduli, ditutupi oleh buku di wajahku aku menutupi air mataku, aku berjaji pada diriku bahwa aku tidak ingin hidup seperti ini lagi, saatnya sebentar lagi akan tiba aku akan melewati SMA, aku tak tahu bagaimana selanjutnya, tapi aku tidak ingin menjadi penunggu toko dan mengulang nasib seperti ini, aku harus keluar dari semua ini, aku harus melanjutkan kuliahku, tapi bagaimana? aku harus merantau ke kota besar, belajar sambil bekerja.......universitas murah, universitas negri...tapi aku seorang keturunan , bagaimana aku dapat diterima di univeristas negri yang saat itu terkenal menerapkan prinsip 9:1 ( 10 % untuk warga keturunan )? mama begitu marah ketika tahu aku mendaftarkan diri untuk kuliah, dia menangisi dan mengkhawatirkan bagaimana membiayai aku, dia mengancam bahwa aku harus berjalan sendiri jika aku terus dengan tekadku...maafkan aku mama tapi inilah penyelesaian satu satunya.......aku harus merubah keadaan, aku ingin pergi..........demi kita semua.
sampai suatu malam 3 hari menjelang UMPTN engkau akhirnya pergi papa, meninggalkan kami dalam kesendirianmu.... di kamarmu.
hari ketiga sebelum aku melangkahkan kakiku menggapai citaku aku berjanji di depan kuburmu aku akan pergi.......melintasi lautan seperti yang aku khayalkan sejak kecil di atas atap rumah kita yang berada diantara bukit barisan dan pantai.........aku melihat samar samar kapal berlalu menuju tanah jawa.
ketika aku berbenah di warung itu , dalam laci meja tempatmu bekerja, aku menemukan buku catatanmu, dimana kau simpan foto ku waktu kecil, dan kau tuliskan puisi yang tidak pernah bisa kau berikan padaku,
terjatuh dengan air mata aku membacanya...salamat jalan papa.....
aku tahu engkau mencintai aku seperti engkau mencitai adikku, tapi engkau tak bisa mengungkapkannya pada ku......begitupun aku nantinya.......maafkan aku papa...maafkan aku.
Kepergianmu menyebabkan aku tiba tiba harus menjadi seorang pria, mencari sendiri masa depanku, bertanggung jawab pada semuanya, sanggupkah aku?
aku berjalan seperti orang mati, kesedihan, kebingungan, beban dipundakku makin berat, ketakutan akan masa depan....ketidak pastian, semuanya seperti menjadi titik nadir, dan momen inilah yang merubah diriku dalam babak pertama hidupku.
Saturday, January 26, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
1 comment:
Hhmmm... sounds interesting.
Post a Comment